find the way..

find the way..

Selasa, 16 Oktober 2012

Definisi Agresif dalam arti yang sebenarnya



Secara umum agresif atau agresif dapat diartikan sebagai suatu serangan yang dilakukan oleh suatu organisme terhadap organisme lain, objek lain atau bahkan pada dirinya sendiri. Definisi ini berlaku bagi semua mahluk, sementara pada tingkat manusia masalah agresif sangat kompleks karena adanya peranan perasaan dan proses-proses simbolik. Sedangkan menurut pandangan behavioristik, bahwa perilaku agresif ini adalah: “suatu tindakan yang membawa ransangan atau resiko berbahaya terhadap organisme lain”.
Selain dari pengertian tersebut, Geen dalam bukunya Gordon Russel (2008:3) menyatakan bahwa: “Agression is the delivery of an aversive stimulus from one person to another with intent to harm and with an expectation of causing such harm, when the other person is motivated to escape or avoid the stimulus”. Senada dengan pandangan tersebut Bushman dan Anderson (Gordon, 2008:4) menyatakan bahwa:
Agression is behavior directed toward an other individual that is carried out with the proximate (immediate) intent to cause harm. In addition, the perpretator must believe that the behavior will harm the target and that the target is motivated to avoid the behavior”

Pengertian mengenai agresif pula dijelaskan oleh Robert Baron (Hudaniah dan Tri Dayakisni, 2003:195), dia menyatakan bahwa: “agresif adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut”. Definisi dari Baron ini mencakup empat faktor tingkah laku, yaitu: tujuan untuk melukai atau mencelakakan, inividu yang menjadi pelaku, individu yang menjadi korban dan ketidakinginan si korban menerima perilaku si pelaku.
Jika kita ingin menekankan kepada ciri-ciri atau karakter tindakan sebagai suatu yang disengaja, maka perilaku agresif dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk perilaku yang dirancang untuk merusak atau melukai kehidupan orang lain. Dalam hal ini, pihak korban tentu terdorong atau termotivasi untuk menghindarkan diri dari perlakuan yang demikian.
Pada umumnya istilah agresif dapat dibedakan offensive aggression yakni, agresif yang tidak secara langsung disebabkan oleh perilaku orang lain. Sebaliknya yakni retaliatory aggression yakni agresif yang merupakan respon terhadap provokasi orang lain. Berdasarkan pada niatnya dibedakan menjadi instrumental aggression yakni, terjadi ketika agresif adalah niat untuk mencapai tujuan tertentu (seperti perampokkan), sementara angry aggression yakni perilaku agresif yang melibatkan keadaan emosional seseorang yang sedang marah (seperti dalam perkelahian).
Beberapa ahli psikologi olahraga menyatakan bahwa perilaku agresif yang bersifat permusuhan dan yang bersifat instrumental harus dibedakan secara jelas dengan perilaku agresif positif atau ketegasan (assertiveness) yang menyatu dalam olahraga. Misalnya seorang petarung yang menghindari serangan lawan kemudian menyerang kembali dengan tendangan lingkar dalam yang cepat kearah muka, sehingga mengakibatkan lawan terjatuh. Tindakan tegas petarung tersebut dengan terpaksa dilakukannya dalam rangka mempertahankan poinnya.
Tentu saja permainan menurut aturan dengan intensitas dan emosi yang tinggi, tetapi tanpa bermaksud untuk mencedrai lawan, tidak dapat dipandang sebagai suatu perilaku agresif. Meskipun sering mengalami kesulitan dalam membedakan antara perilaku agresif dengan ketegasan dalam olahraga.
Sesungguhnya apa akar dari perilaku agresif ini? Apakah usia terkait secara alamiah dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada perilaku agresif ini? Pada tahun-tahun pertama kehidupan seorang bayi dapat menjadi amat kasar kepada sesamanya atau antar satu sama lain, ketika mereka hendak memilki atau menguasai mainannya. Pertengkaran-pertengkaran ini biasanya terjadi saat usia dua tahun. Ada perubahan-perubahan dalam hal terlalu seringnya perilaku agresif pada masa usia sebelum sekolah, Rusli Ibrahim (2007:69) menyatakan bahwa:
1.      Ganguan tabiat buruk berkurang selama periode sebelum sekolah, dan jarang terjadi setelah usia empat tahun;
2.      Setelah lewat usia tiga tahun, jumlah anak-anak yang cenderung balas dendam dengan respons atau tindakan menyerang atau frustasi cenderung meningkat secara dramatis;
3.      Frustasi yang mengarah kepada agresif pada usia dua sampai tiga tahun sering dating dari orang tua yang otoriter. Anak-anak yang lebih tua usianya lebih mungkin berperilaku agresif, karena terjadi konflik dengan teman sebayanya;
4.      Frekuensi interaksi agresif berkurang antara usia dua sampai lima tahun. Penurunan frekuensi agresif ini mungkin merupakan hasil usaha orang tua di rumah dan guru di sekolah yang mengajari anak-anak mengatasi konflik secara damai;
5.      Selama tahun-tahun pertama periode sekolah dasar, penggunaan agresif fisik untuk mengatasi konflik selanjutnya berkurang. Kendati demikian, provokasi langsung untuk menghilangkan perilaku agresif yang bersifat reaktif pada anak-anak sekolah dasar terus dilanjutkan. Peningkatan gejala perilaku bermusuhan ini boleh jadi berkaitan dengan kenyataan bahwa anak-anak pada usia ini lebih mampu menebak motif-motif, dan maksud-maksud orang lain;
6.      Sekitar masa remaja awal dan remaja akhir (usia 10-18 tahun), perkelahian dan perilaku agresif bermusuhan pertama-tama meningkat hingga usia 13-15tahun, dan kemudian menurun setelah itu.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada perilaku agresif, ditemukan bahwa perkembangan perilaku agresif terjadi sejak masa bayi, dilanjutkan dengan pada masa pra-sekolah, masa usia sekolah, remaja hingga dewasa. Namun demikian ditemukan bahwa ada masa kritis dimana perilaku agresif dapat menjadi sebuah kecenderungan yang dapat bertahan sampai masa dewasa. Masa tersebut adalah masa usia sekolah dan remaja. Pada masa usia sekolah, perilaku agresif dapat menjadi sumber kenakalan kronis dan kejahatan pada remaja.
Bahkan penelitian dari Leonard Eron menunjukkan bahwa dengan melihat anak pada waktu berusia 8 tahun, maka dapat diketahui seberapa agresif seseorang pada saat dewasa. Pada saat remaja, perilaku agresif yang belum dapat diatasi. akan semakin lebih berbahaya, karena dapat melanggar hukum dan menjurus pada perkelahian dan tindakan kekerasan. Lebih khusus lagi pada saat remaja awal, dimana terjadi konflik ororitas dan hubungan dengan teman sebaya yang menguat, maka bentuk-bentuk perilaku agresif seseorang lebih nyata. Untuk itu usaha untuk menciptakan anak usia sekolah dan remaja awal yang dapat mengendalikan diri sangat penting dilakukan.
Penelitian menunjukkan bahwa remaja awal yang dapat mengendalikan diri, hangat, bertanggung jawab dan bekerja sama akan cenderung bersikap sama hingga 30 tahun kemudian. Pada usia 8-12 tahun adalah agresif tidak jelas yaitu perilaku mengganggu, berbohong atau merusak benda sedangkan pada usia 12-14 tahun adalah agresif yang bersifat jelas atau berupa tindakan kekerasan seperti berkelahi atau menyerang bahkan memaksakan perilaku seks pada seseorang. Dengan demikian untuk memahami penyebab perilaku agresif sangat penting untuk memfokuskan pada pengalaman dan keterlibatan anak dalam kekerasan pada masa usia sekolah dan remaja awal.
 Penelitian mengenai perilaku agresif telah banyak dilakukan di negara Barat baik dari segi biologis, psikologis maupun sosial. Bandura melalui Social learning theory menyebutkan bahwa kondisi lingkungan dan sosial dapat mengajarkan individu menjadi agresif. Hal ini diakibatkan seseorang, mempelajari tingkah laku baru melalui imitasi pada orang lain yang dianggap penting.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar